Jakarta, pernah punya AHOK

Kekalahan Badja berasa kayak ditinggal pacar yah?

Kosong Hampa dan Tidak percaya. Could somebody wake me up? It’s just a dream?

Saya bersedih karena tahu betul kalo Pak Ahok dan Pak Djarot kerjanya nyata. Kerjanya sibuk ngurusin rakyat kecil seperti kami. Well saya gak mau tulis panjang-panjang menyoal ini. Karena begitu banyak kerja nyata mereka kalo saya tulis.

Satu hal yang saya masih percaya adalah, ini bukan akhir dari bangsa ini khususnya DKI Jakarta. Tapi saya percaya ada sesuatu yang besar untuk pak Ahok kerjakan didepan nanti. Atau mungkin ada kejutan bahwa ternyata hasilnya Ahok yang menjadi Gubernur putaran kedua. Jangan tanya saya gimana caranya pokoknya garisnya emang begitu. Who knows.

Saya tetap optimis akan lahir orang-orang baru seperti Pak Ahok.

Kalau beliau aja begitu lapang dan berkata:

“Kekuasaan itu Tuhan yang kasih, Tuhan juga yang ambil. Jadi biasa aja. Gak usah terlalu gimana-gimana” – luarbiasa beliau dengan santainya bicara ini.

Pilkada ini jadi ajang berharga buat kita semua. Semua anak muda harus bergerak dan melek politik agar tidak mudah tergiring opini yang menyesatkan atau menyudutkan. Semoga isu SARA ini menjadi yang terakhir dalam setiap pemilihan kepada daerah.

Pak Ahok dan team pasti belajar banyak dari kekalahan ini. Maka kita juga harus belajar agar keesokan hari pesta demokrasi dinegara ini kita yang aktif ambil bagian. Tidak melulu jago cuit dan post di medsos tapi mulai terjun dan aktif menyuarakan hal-hal positif. Tunjukkin kalo kita bukan sekedar ikut-ikutan tapi ada gagasan yang bisa diberikan untuk kota kita.

Sedihnya cukup. Move on. Terima kekalahan seperti seorang ksatria.

Well,

Again! Selamat kepada Pak Anies dan Pak Sandiaga untuk kemenangan hasil Quick Count Pilkada DKI Jakarta putaran kedua.