Masturbasi Ramean

Linimasa lagi ramai membahas keputusan hakim vonis atas Pak Basuki – Ahok.

Yang menarik perhatian saya adalah kubu seberang.

Kubu yang anti ahok. Kubu yang menamakan aksi bela agama. Saya tidak sengaja melihat post / status mereka yang dipenuhi kebencian ada di linimasa. Jadi bagus juga sih, jadi tahu manusia seperti apa mereka. Pikirannya sempit kayak kolor baru,  kurang banyak melihat, kurang wawasan, kurang piknik dan kurang sambal terasi *jadi totalnya berapa mbak?*

Ada yang nyeletuk begini :

Kok itu pendukung Ahok gak dikasih gas airmata juga kalo pada kumpul sampe malem?? Pak Polisi apakah Anda pilih kasih? Giliran kami bela agama yang seagama dengan Pak Polisi malah dikasih gas air mata!

Oh Bung, kita beda level! Pak Polisi tahu mana massa yang bisa dibilangin dan mana massa yang anarkis maen hakim sendiri. Dan terpenting *ambil pulpen, catat!* Pak Polisi itu kerjanya kaga ngeliat agama bosss. Repot amat. Coba kamu saya tilang tapi agama kamu apa yah kok matanya sipit? Repott coiiii

Moso bung kaga bisa bedain hal sepele begitu?? Bung gak asik lah!

Kami tidak anarkis! Kami baru satu tembok / dinding / pagar  yang kami dorong hampir mau roboh. Itukan jadi highlight kalian? Yang jadi trending buat kalian? Gak roboh kok tenang aja. Kalo roboh mereka siap bertanggung jawab!

Padahal kami satu agama dengan Pak Polisi loh, kok bisa bisanya mereka malah membela si Ahok kafir?

Oh bung, jangan bicara agama please, karena kami jauh dari benar menyoal agama. Apa yang baik bagi kami aja belum tentu benar bagi Tuhan. Setiap hari kami masih terus belajar mengenai agama kami. Agama kami bukan untuk dibawa ke panggung politik, panggung sandiwara apalagi panggung boneka. Mahal sekarang masuk dufan! Bukankah apapun agamamu agamaku urusan kita masing-masing dengan Tuhan?

Lain lagi dengan yang bilang :

Kok banyak orang muslim yang malah pada nangis karena si penista agama? Si mbak ini heran tapi si mbak ini juga tidak menerima debat/pendapat.

Pokoke menurut pendapat dia begitu yah begitu, pendapat lain tidak diterima oleh si mbak. Hanya menerima komen yang sependapat dengan si mbak.

Walah. Kemudian besok kiamat. Si mbak ini doang yang masuk Surga.

Yang lain antri beli chiki chuba.

Tapi asik juga, jadi kita gak perlu capek capek jelasin kenapa teman teman banyak yang nangis dengan vonis hakim kepada Pak Ahok. Karena si mbak sudah menutup diri dan menutup komen dari luar jadi saya ga perlu sok jelasin apa-apa hahaha. Suka suka udelmu mbak? *cek udel*

Yah okelah cased close. Ahok menistakan agama.

*manggil si Nalar* Kemudian bagaimana dengan mereka yang menistakan agama / institusi / lambang negara?  Bahkan seenak udelnya kalo ngomong? *nalar masih nunggu jawaban dari kubu sebelah* *tik tok tik tok*

Kenapa mereka ini pada gak kenceng teriaknya sama seperti kepada Ahok?

Ya Tuhan pada kemana mereka ini, apakah mereka sedang sibuk jualan saat penista selain Ahok beraksi? Apakah mereka sedang menikmati Waduk Pluit buatan si kafir atau lagi beli sepatu pake KJP dari Ahok? Ntahlah..

Mereka ini, biasa disebut sumbu pendek oleh teman saya.

Suka bermain dengan pikiran sendiri, padahal cara pikir Tuhan itu luarbiasa tak terbatas, tak terkira, tak terjangkau, tak terpikirkan.

Apa jangan-jangan mereka sedang masturbasi dengan pikiran mereka sendiri? Memuaskan mereka sendiri? Sesuka mereka sendiri? Ntahlah. *kasih tissue*