Bandara Baru SRG

“Bandara ini uda berapa lama mas?” tanya saya kepada babang gocar.

“Ini baru diresmikan oleh Pak Presiden Jokowi kemarin mas, seminggu sebelum lebaran” jawabnya.

Demikian obrolan singkat saya sama babang gocar begitu masuk kedalam mobilnya. Saya memutuskan naek gocar lebih praktis karena tujuan saya hanya 3KM dari Bandara Ahmad Yani – Semarang yang baru.

Berarti saya ngerasain Bandara baru di kota Semarang nih. Karena waktu saya turun dari pesawat tadi pagi ini memang sedikit takjub, ini Bandara terlihat bersih dan serba putih semuanya.

“Wah keren banget bandaranya, bersih rapi dan serba putih semua keliatannya sih masih baru . . . “ demikian pikir saya. Ya cuma dalam hati gak di upload ke IGs takut dikatain norak sama nitijen.

Eh ternyata bener masih baru tuh Bandara. Hahaha.

Bandara baru per 6 Juni 18

Buat Pak Presiden dan Angkasa Pura keren proyeknya. Semoga bandara-bandara lainnya minimal sekeren dan lebih keren dari Bandara Ahmad Yani yess. Dan satu yang penting dipertahankan kebersihannya. Dannn kelen kelen yang baca juga berperan turut serta yess. Buang sampah jangan sembarangan, kencing jangan pelit siramnya, sepatu kotor jangan di tempel ke tembok. Sepele tapi menahun jadi kumuh juga tuh tempat.

Dan dibagian Pak Presiden Jokowi narik sepeda yang lagi hits itu ruamenya poll lg pada antri untuk foto. Saya mau juga foto yatapikok sendiri trus minta tolong foto oleh mereka trus foto diliatin banyak orang, agak gimanaa yess. Next deh saya berfoto ditempat hits itu.

Pak Presiden dibonceng Pak Jokowi

Bandara ini juga dikenal bandara terapung. Karena memang saat exit dari bandara perjalanan kita diatas danau / tambak apalahitusayalupatanyapokoknyabawahjalananair.

Cerita lainnya adalah mengenai taxi di Bandara. Pas pesen gocar:

“Mas posisi dimana?” babang gocar nanya

“Saya dekat pangkalan taxi mas, yang counter taxi bla bla. .”

“Oh bisa ga mas jangan deket sana, kalau saya jemput disana kena denda sekian rebu gpp mas?” tanya masnya.

“Jadi ga bisa jemput nih pak?” tanya saya penasaran

“Bisa mas, cuma jangan nunggu disitu bisa gak mas? deket posko saja yah mas” lanjut kata masnya.

. . . . .

“Iya mas, taxi disini punya TN*I (sensor), jadi ga boleh ada taxi lain kalo ketauan kena denda” cerita mas gocar diperjalanan

“Kenapa begitu mas?” tanya saya

“Yah biasa mas kan yang berkuasa. . . ” jawabnya singkat

“Nah ini pangkalan taxinya mas kalau mau pesen taxi selain yang didalem Bandara. Yah cuma musti jalan dulu sekitar 5km” cerita si mas pas liat taxi yang warna biru

“Wah kasian nitijen dong mas masa bawa koper tarik jalan sepanjang itu baru bisa dapet taxi dan kasian juga mereka (supir taxi biru) ga dapet orderan kalo ditaro sejauh ini” sahut saya kaget pangkalan kok jauh bener dari lokasi pintu keluar.

Pegimana ceritanya itu taxi monopoli dalem Bandara. Ada ada aja. Gak fair play yes.

Kalian lebih sering naik onlen atau layanan taxi yang disitu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s